Ternyata Hijrah Ke WorldSBK di 2017 Jadi Salah Satu Kesalahan Terbesar Dalam Hidup Stefan Bradl

Stefan Bradl ternyata sangat menyesal pindah ke WorldSBK di 2017. | Foto : MotoGP

BalapMotor.Net Pembalap 32 tahun asal Jerman Stefan Bradl blak-blakan mengenai perjalanan karir balapnya hingga saat ini. Saat ini Stefan Bradl sendiri menjadi tes rider HRC. Hal ini diungkapkannya dalam video dokumenter HRC.

Juara dunia Moto2 World Championship ini sendiri mempunyai pengalaman balap yang terbilang cukup tinggi. Setelah juara dunia Moto2 pada 2011, Bradl lantas balap di kelas MotoGP pada 2012 sampai 2014 bersama LCR Honda.

LENKA MiniGP SSS Racing

Bersama LCR Honda, Bradl sebenarnya mempunyai prestasi yang cukup lumayan. Selama tiga musim Bradl berhasil terus berada di klasemen akhir 10 besar.

Namun akhirnya Bradl akhirnya harus berpindah tim bersama pasukan Athina Forward Racing di awal musim 2015. Tim ini merupakan tim kelas open dimana mereka menggunakan mesin produksi massal di sasis prototype.

Setelah menyelesaikan setengah musim bersama Athina Forward Racing, Bradl dapat kepercayaan untuk membela tim Aprilia Racing Gresini. Bersama cikal bakal tim pabrikan Aprilia ini, Bradl berlanjut sampai 2016, namun hasilnya hanya ke-16 di klasemen akhir.

Aksi Stefan Bradl di WorldSBK 2017 | Foto : WorldSBK
Hijrah Ke WorldSBK di 2017

Dengan hancurnya prestasi Bradl di 2016, pada 2017 akhirnya Bradl memutuskan untuk hijrah ke WorldSBK bersama tim Red Bull Honda. Tidak seperti beberapa rider MotoGP lainnya yang bagus saat pindah ke WorldSBK, Bradl justru sebaliknya.

Bradl hanya duduk di klasemen akhir ke-14 dengan posisi finis terbaik ke-6 di race 1 WorldSBK Belanda. Setelah gagal total di WorldSBK, pada tahun-tahun setelahnya Bradl lebih banyak menjadi rider pengganti dan tester. Padahal di 2017, Bradl masih berusia 28 tahun.

Bradl kini mengungkap bahwa berpindah ke WorldSBK sendiri ternyata menjadi sebuah moment tersulit baginya. “Saya pindah ke WorldSBK dan itu merupakan salah satu kesalahan terbesar yang saya buat dalam hidup saya,” ungkapnya.

“Saya menderita seperti orang gila pada tahun itu. Pada bulan Mei, Nicky Hayden (rekan setimnya) meninggal setelah kecelakaan sepeda. Saya sendirian di tim dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hidup saya di masa depan,” tambahnya.

“Kemudian saya mendapat telepon dari Takeo (Yokohama) menanyakan apakah saya tertarik dengan peran sebagai tes rider Honda di MotoGP, dan saya berkata Ya saya sangat tertarik,” terang Bradl yang akhirnya jadi tes rider Honda sampai saat ini.

GM-helm VND Racing PARD