
BalapMotor.Net – Peran pemerintah dalam membangun ekosistem motorsport nasional menjadi pondasi penting yang kerap luput dari perhatian publik. Salah satu langkah strategis adalah pembangunan Sirkuit Mandalika yang kini dikenal sebagai Pertamina Mandalika International Circuit di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebagai venue motorsport berkelas dunia sekaligus sarana bagi pembalap Indonesia untuk berlatih dan berkembang menuju level internasional.
Sirkuit yang dibangun ITDC ini menghabiskan biaya triliunan rupiah dan diresmikan pada 2021, pertama kali digunakan untuk ajang World Superbike 2021, dan sejak 2022–2025 secara konsisten menjadi tuan rumah MotoGP. Tahun ini, ajang bergengsi tersebut dijadwalkan kembali digelar pada 9–11 Oktober 2026, menegaskan posisi Sirkuit Mandalika sebagai salah satu venue event motorsport dunia.

Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga memberikan dukungan moral kepada pembalap Indonesia. Salah satunya terlihat ketika Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memperkenalkan Mario Aji dan Veda Ega Pratama untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 30 September 2025.
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir juara dunia MotoGP 2025, Marc Marquez, yang memberikan motivasi langsung kepada para pembalap Indonesia. Pertemuan ini berlangsung menjelang penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 di Mandalika, dan menjadi bukti nyata dukungan negara terhadap perkembangan pembalap nasional.
Ekosistem Motorsport sebagai Pembinaan Pembalap
Keberhasilan para pembalap Indonesia menembus level dunia melalui proses yang sangat panjang dengan didukung ekosistem motorsport yang memadai. Menurut Eddy Saputra (CEO Pride promotor Kejuaraan Nasional Pertamina Mandalika Racing Series), prestasi yang diraih para pembalap Tanah Air merupakan hasil dari proses panjang dan kolaborasi berbagai pihak dalam membangun ekosistem motorsport nasional.

Eddy Saputra menegaskan, keberhasilan pembalap Indonesia bukan lahir secara tiba-tiba, melainkan hasil dari kerja kolektif yang melibatkan pembinaan berjenjang, kejuaraan nasional yang konsisten, regulasi dan pengawasan dari Ikatan Motor Indonesia (IMI), dukungan sponsor, serta pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.
“Prestasi pembalap Indonesia di level dunia adalah hasil dari ekosistem yang dibangun bersama. Ada pembinaan pembalap, kejuaraan nasional, peran IMI sebagai regulator, dukungan sponsor, serta peran pemerintah dalam membangun infrastruktur seperti Sirkuit Mandalika,” ujar Eddy Saputra.
Dalam beberapa tahun terakhir, hasil dari ekosistem ini mulai terlihat nyata. Nama-nama seperti Veda Ega Pratama di Moto3, Mario Aji di Moto2, hingga Aldi Satya Mahendra yang berhasil meraih gelar juara dunia World Supersport 300, menjadi bukti bahwa fondasi motorsport Indonesia mulai bekerja secara efektif.
Menurut Eddy Saputra, ekosistem motorsport nasional kini ditopang oleh beberapa elemen utama. Pertama adalah dukungan pemerintah melalui pembangunan infrastruktur sirkuit dan pembinaan atlet dan pembalap. Kedua, peran regulator dalam hal ini Ikatan Motor Indonesia sebagai induk organisasi yang mengatur regulasi, lisensi, dan standarisasi balap. Ketiga, penyelenggaraan kejuaraan nasional seperti Pertamina Mandalika Racing Series sebagai wadah kompetisi yang melahirkan pembalap handal.
Keempat, keberadaan tim balap yang profesional sebagai tempat berkembangnya talenta. Kelma, akademi balap yang memberikan pelatihan teknis dan mental sejak dini. Keenam, pembinaan dari pabrikan besar seperti Honda dan Yamaha yang memainkan peran penting dalam mencetak pembalap berbakat. Berikutnya ketujuh, adanya dukungan sponsor dan industri yang menjaga keberlangsungan karier para pembalap, mengingat biaya balap yang sangat besar.
“Tanpa salah satu elemen ini, pembalap akan sangat sulit untuk naik ke level dunia,” tegasnya.

Upaya Pemerintah versus Respons Publik
Meski demikian, Eddy Saputra juga menyoroti bahwa masih terdapat kesenjangan pemahaman di tengah masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah komunikasi publik yang belum sepenuhnya menjelaskan keterkaitan antara investasi besar di sektor motorsport dengan prestasi atlet.
Banyak masyarakat terutama netizen di media sosial yang belum memahami bahwa kehadiran event internasional seperti MotoGP di Sirkuit Mandalika memberikan exposure global bagi pembalap Indonesia, sekaligus menarik sponsor dan memperkuat ekosistem. Akibatnya, muncul persepsi bahwa pemerintah hanya “menumpang sukses” ketika pembalap meraih prestasi.
“Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Semua saling terhubung dalam satu ekosistem,” jelas Eddy Saputra.
Di sisi lain, dinamika media sosial juga turut mempengaruhi cara publik memandang isu ini. Eddy Saputra menilai, budaya netizen yang cenderung lebih cepat menyebarkan kritik dibandingkan apresiasi membuat narasi yang berkembang sering kali tidak seimbang.

Ketika pemerintah atau kementerian memberikan dukungan kepada pembalap, sebagian netizen justru menilai langkah tersebut terlambat atau sekadar pencitraan. Padahal, dukungan tersebut tetap memiliki peran penting dalam menyediakan fasilitas, regulasi, dan pembiayaan event.
Fenomena ini, menurut Eddy Saputra, bukan semata-mata bentuk penolakan, melainkan cerminan dari kurangnya pemahaman terhadap ekosistem motorsport yang kompleks, ditambah dengan karakter media sosial yang cenderung mengedepankan kontroversi.
Membangun Ekosistem Motorsport Berkelanjutan
Eddy Saputra menegaskan bahwa investasi besar seperti pembangunan Sirkuit Mandalika dan penyelenggaraan MotoGP dan Asia Road Racing Championship (ARRC) harus dilihat sebagai fondasi jangka panjang. Infrastruktur, exposure global, serta keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci lahirnya lebih banyak pembalap Indonesia yang mampu bersaing di level dunia.
“Kalau dilihat jangka pendek memang tidak selalu terlihat hasilnya. Tapi dalam jangka panjang, inilah yang akan melahirkan pembalap-pembalap Indonesia kelas dunia,” ungkap Eddy Saputra.
Karena itu, Eddy Saputra menekankan pentingnya pentingnya pemahaman yang sama antara pemerintah, pelaku motorsport, dan masyarakat bahwa membangun ekosistem motorsport yang melahirkan pembalap berprestasi di tingkat global melibatkan banyak pihak.
Eddy Saputra menambahkan, “Dalam konteks pembangunan ekosistem, pemerintah sejatinya telah menyiapkan dua aspek penting sekaligus, yakni hardware dan software. Infrastruktur fisik seperti sirkuit dan fasilitas pendukung menjadi hardware , sementara regulasi, penyelenggaraan event, hingga pembinaan menjadi bagian dari software . Kini, tinggal bagaimana semua pihak memaksimalkan,” jelas Eddy Saputra.
Lebih lanjut, Eddy Saputra menekankan bahwa setiap pembalap memiliki tahapan atau milestone yang harus dilalui sebelum mencapai level dunia. Tidak ada jalan pintas dalam proses tersebut.
“Semua atlet pasti memiliki milestone atau tahap untuk bisa mencapai level dunia. Itu adalah sebuah proses panjang yang harus dijalani secara konsisten,” ujar Eddy Saputra.
Eddy Saputra menjelaskan, proses tersebut pada akhirnya tidak hanya melahirkan individu pembalap berprestasi, tetapi juga membentuk sebuah industri motorsport yang berkelanjutan.
“Pada akhirnya, ini akan menjadi sebuah industri motorsport yang melibatkan semua stakeholder. Mulai dari pemerintah, regulator, pabrikan sepeda motor, sponsor, tim balap, promotor, hingga berbagai pihak lain yang terlibat dalam ekosistem ini,” pungkas Eddy Saputra. (rls)



































































